Minggu, 30 Maret 2008

PROFIL JAWA TENGAH.



Provinsi Jawa Tengah, sebagai salah satu wilayah tujuan wisata, Indonesia menawarkan berbagai macam tujuan wisata seperti pemandangan alam, budaya atau barang-barang kerajinan.

Tepat berada di tengah Pulau Jawa, disebelah barat berbatasan dengan Jawa Barat, bagian timur berbatasan dengan Jawa Timur dan bagian selatan terdapat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dataran rendah berada di sepanjang pantai utara sedangkan dataran tinggi di sebelah selatan. Dapat ditemukan deretan pegunungan dari barat ke timur seperti Gunung Slamet (3,428 m), Gunung Perahu (2,585 m), Gunung Sindoro (3,135 m), Gunung Sumbing (3,321 m), Gunung Merapi (3,142 m), Gunung Ungaran (2,050 m) dan Gunung Lawu (3,265 m) di perbatasan Jawa Timur serta terdapat Gunung Muria (1,602 m) sebelah utara.

Daerah pegunungan yang sejuk dengan panorama yang indah sangat bagus untuk dinikmati yaitu Baturaden, Dataran Tinggi Dieng , Bandungan, Kopeng, Tawangmangu dan Colo.

Sungai terbesar adalah Sungai Serayu yang bersumber dari Dataran Tinggi Dieng dan Sungai Bengawan Solo.

Administrasi

Dipimpin oleh Gubernur secara administratif terdiri dari 35 kabupaten dan kota, masing – masing secara berurutan dipimpin oleh Bupati dan Walikota.
Kabupaten dan kota dibagi lagi menjadi kecamatan yang dipimpin oleh Camat. Kecamatan dibagi lagi menjadi desa sebagai tingkatan administratif yang paling rendah yang dikepalai oleh Kepala Desa.

Iklim

Temperatur rata – rata antara 21o - 32oC dan mempunyai 2 musim, yakni musim hujan (Oktober – Apri ), dan musim kemarau (April – Oktober)

Agama

Kebebasan menganut agama dilindungi oleh pemerintah, diantara lima agama yang diakui (Islam, Protestan, Katolik, Budha, dan Hindu).

Bahasa

Walaupun sebagaian besar masyarakatnya mempergunakan Bahasa Jawa dengan berbagai dialek, Bahasa Indonesia tetap sebagai bahasa utama.

Penduduk

Orang Jawa terkenal akan keramahan dan kesopanannya. Tahun 2000 populasi penduduk adalah 30,7 juta (896 orang per km2). Dengan mata pencaharian sebagai petani, pedagang, pegawai negeri. Selain suku bangsa asli, ada pula beberapa suku bangsa asing hidup di Jawa Tengah seperti bangsa Arab, China, India dan Pakistan. “Kebaya“ merupakan pakaian khas yang dipakai oleh kaum wanita.

LEGENDA CINTA BATURRADEN.



Kawasan Lokawisata Baturaden terletak kurang lebih 15 Km arah utara kota Purwokerto, tepat di kaki gunung slamet. Nama Baturraden diambil dari kisah cinta seorang pembantu (batur) dengan putri (Raden) seorang adipati. Konon kisah cinta mereka tidak direstui oleh sang adipati yang mengakibatkan mereka pergi meninggalkan kadipaten. Dalam pelariannya mereka berhenti disuatu tempat. Tempat mereka berhenti dirasa cocok bagi mereka. Maka keduanya memutuskan untuk menetap disana. Tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Baturraden, yang berarti Batur dan Raden.

Budaya Kirab Pusaka In Solo.



Acara Kirab Pusaka berlangsung di Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran, diselenggarakan untuk menyambut datangnya Tahun baru Islam(Hijriah)/Jawa (1 Muharam/Suro) tepatnya pada tanggal 9 Januari 2008. Di Pura Mangkunegaran, acara berlangsung pada jam 19.00 WIB dalam bentuk arak-arakan/prosesi prajurit Mangkunegaran yang berpakain tradisionil dengan membawa pusaka-pusaka, berjalan mengelilingi komplek Mangkunegaran. Sedangkan di Kraton Kasunanan, prosesi kirab pusaka dilakukan pada jam 24.00 WIB dan diikuti oleh seluruh keluarga Kraton Kasunanan. Hal menarik dalam prosesi tersebut adalah keikutsertaan seekor kerbau bule, binatang piaraan Raja yang bernama Kyai Slamet. Masyarakat setempat mempercayai bahwa kerbau tersebut adalah binatang keramat yang dapat memberi keberuntungan.

BUDAYA SEKATEN SOLO



Sekaten merupakan pasar malam yang diselenggarakan setiap bulan Mulud ( bulan Jawa/Hijriyah) untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW berlangsung di alun alun Utara komplek Kraton Surakarta Hadiningrat.
Upacara pembukaannya ditandai dengan prosesi dikeluarkannya dua gamelan besar milik kraton yang dibawa ke Masjid Agung untuk ditabuh. Event Sekaten ini ditutup dengan upacara Grebeg Maulud yang ditandai dengan disajikannya dua tumpeng besar oleh keluarga kraton Kasunanan Surakarta. Tumpeng dibawa dengan diiringi prajurit kraton menuju Masjid Agung. Seusai selamatan tumpeng dibawa ke luar Masjid dan dibagikan kepada para pengunjung . Masyarakat sekitar mempercayai barang siapa yang mendapatkan bagian dari tumpeng tersebut akan mendapatkan keberuntungan.

Rabu, 26 Maret 2008

Jumat, 21 Maret 2008

Wisata Astana Giri Bangun In Karanganyar.



:: Astana Giri Bangun ::

Astana Giri Bangun adalah sebuah pemakaman yang terletak di sebelah timur kota Surakarta, Indonesia, tepatnya di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, sekitar 35 km dari Surakarta..
Istri presiden Indonesia, Soeharto, Ibu Tien, dimakamkan di sini.

Situs pemakaman ini dirancang untuk dipakai oleh seluruh keluarga Pak Harto. Pada saat pembangunannya dimulai, jauh sebelum Ibu Tien Suharto wafat, telah menuai badai kritik dari berbagai kalangan masyarakat. sehingga diisyukan bahwa liang-liang lahat yang dipersiapkan untuk peristirahatan terakhir itu dilapisi dengan emas maupun perak. pada hal pada saat yangsama (saat itu) keadaan ekonomi rakyat sedang tidak membaik. Astana Giri Bangun, komplek makam khusus keluarga Yayasan Mangadeg Surakarta, dibangun tahun 1974. Lokasinya di atas Bukit Giribangun yang puncaknya dikenal sebagai Bukit Mangadeg. Di puncak bukit ini terdapat makam raja-raja Mangkunegaran, Surakarta. Termasuk makam Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa, Mangkunegara II, III, dan VIII.
Beratap joglo -- khas bangunan rumah Jawa -- luas seluruh bangunan
sekitar 200 meter persegi. Komplek makam ini memiliki tiga tingkatan
cungkup. Cungkup Argo Sari teletak di tengah-tengah dan atapnya
menjulang paling tinggi. Di bawahnya, terdapat cungkup Argo Kembang,
dan paling bawah adalah cungkup Argo Tuwuh.
Jenazah Ibu Tien akan dimakamkan di bawah cungkup Argo Sari. Di situ
telah pula dimakamkan ayahanda Ibu Tien, KRMTH Soemoharjmo, ibunda Bu
Tien KRA Soemoharjomo, dan kakak perempuan Bu Tien, RA Siti Hartini
Odang. Makam Ibu Tien terletak satu deretan dengan makam-makam
tersebut, dan berdampingan dengan lokasi yang disiapkan untuk makam
Pak Harto kelak.
Cungkup Argo Sari disangga oleh empat tiang utama, terbuat dari beton
yang dilapis kayu ukiran Jepara. Pada tiang-tiang yang terkesan kokoh
itu, dilengkapi cincin-cincin logam berwana kuning. Cincin inilah yang
dulu pernah diisukan terbuat dari bahan emas. Sukamdani Sahid
Gitosarjono, ketua harian Yayasan Mangadeg, meluruskan isu ini. "Yang
benar, terbuat dari tembaga yang diasah," ujar pimpinan New Sahid
Builders yang dipercaya membangun komplek makam ini.
Menurut Sukamdani, tembaga yang dipergunakan untuk hiasan di kompleks
makam senilai (waktu itu) Rp 450 juta. Marmer untuk lantai,
didatangkan dari Tulungagung. Di atas marmer berwarna krem itu,
terhampar karpet coklat. Dengan wafatnya Ibu Tien, Astana Giri Bangun
telah terisi empat belas makam. Empat makam (termasuk makam Bu Tien)
terletak di bawah cungkup Argo Sari, dan sepuluh lainnya berada di
bawah cungkup Argo Kembang dan cungkup Argo Tuwuh. Menurut Sukamdani
S. Gitosardjono, ketiga jenis cungkup menggambarkan filsafat siklus
kehidupan yang tumbuh, berkembang, dan bersiap memenuhi panggilan Yang
Maha Pencipta. Penentuan lokasi di atas bukit, lanjutnya, agar tidak
mengganggu atau diganggu masyarakat sekitar. Astana Giri Bangun memang
satu-satunya bangunan di puncak bukit itu, dengan latar belakang
pepohon hijau yang lebat. Jalan menuju kompleks makam tidak terlalu
lebar, menanjak dan berkelok-kelok.
Kompleks makam juga dilengkapi bangunan pendukung di sekelilingnya.
Ada paseban selatan, paseban timur, dan di sebelah barat disediakan
bangunan paintry dan sebuah musholla, juga rumah untuk juru kunci
makam.
Hari-hari ini, Astana Giri Bangun menjadi pusat perhatian. Di sini
telah bersemayam salah satu putra terbaik bangsa ini. Suara tahlil
yang terdengar sambung menyambung, seolah tidak hanya terlantun dari
mulut puluhan orang yang khusyuk tafakkur di seputar cungkup Argo
Sari, tapi juga dari rindang pepohonan yang menaungi komplek ini.

Wisata Air Terjun Jumok In Karanganyar.



Karanganyar: Kawasan Sukung Brejo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menyimpan keindahan alam yang tak kalah untuk dinikmati. Daerah yang berada 100 meter dari permukaan laut itu berembus udara dingin yang menyegarkan suasana pagi. Belum lagi iringan nyanyian burung-burung, menambah geregetnya kawasan Sukung Brejo yang dinginnya mencapai 12 derajat Celsius ini.


Di Kabupaten Karanganyar, terdapat sekitar 70 objek wisata, di antaranya wisata alam, wisata sejarah, sampai agrowisata (wisata perkebunan). Salah satunya adalah Candi Sukuh di kaki Gunung Lawu, Kecamatan Ngargoyoso. Sepanjang jalan menuju Candi Sukuh, banyak terdapat homestay atau penginapan rumah warga dengan harga sewa yang bervariasi. Selain homestay, di sana juga ada sejumlah cottage dan vila. Perjalanan menuju Candi Sukuh menempuh jalan yang menanjak.

Untuk masuk ke kawasan Candi Sukuh, pengunjung harus membayar tiket masuk Rp 2.500. Candi Sukuh sendiri didirikan pada pertengahan abad 15, tepatnya 1437 Masehi atau 1359 Saka. Penetapan itu bisa diketahui melalui relief sebelah kiri yang dinamakan gapuro (9), buto (5), makan atau aban (3), orang atau wong (1). Bila dibaca dengan cara dibalik, barulah jelas tertera penanggalan Jawa 1359 Saka. Dasar inilah yang dipakai untuk menentukan berdirinya Candi Sukuh, setelah menyesuaikan dengan tahun Masehi yang berselisih 78 tahun dengan tahun Jawa.

Ada beberapa tradisi yang masih berlangsung di Candi Sukuh, di antaranya adalah ruwatan. Tradisi ini mengacu pada relief seorang bayi yang direbutkan dua orang anak. Gambar itu menggambarkan bahwa dalam hidup, manusia direbutkan oleh dua kekuatan, yakni baik dan buruk. Agar bisa kembali ke asal, manusia harus suci. Agar bisa suci, maka harus diruwat atau dibersihkan.

Selain relief tadi, di sana terdapat pula relief kepala (kala) yang menyimbolkan karma manusia. Selain itu, ada relief Bima yang menyimbolkan manusia, Dewa dan Tuhan. Tak kalah menarik di sana juga mengalir air Tirta Marta (air kehidupan) yang diyakini dapat hidup kekal bila meminumnya.

Di kawasan Sukung Brejo, Anda juga jangan lupa mampir di Greenhouse untuk memetik bunga Krisan. Bunga yang memiliki sekitar 200 varian ini sering dipakai oleh semua perangkai buket di seluruh dunia. Satu ikat, yang berisi sepuluh tangkai, dijual dengan harga Rp 10 ribu. Dan, bunga Krisan paling laku terjual adalah yang berwarna putih dan kuning.

Kawasan lain yang juga menarik buat dikunjungi yaitu air terjun Jumok. Air terjun dengan ketinggian 30 meter ini konon memiliki aura mistis. Di sana, bila Anda memohon sesuatu, maka akan bisa terkabul. Entahlah.

Di dalam kawasan air terjun Jumok, juga terdapat kebun kopi dan kebun cengkih. Hidup pula di kawasan air terjun Jumok sejumlah hewan liar dari jenis yang tak berbahaya. Sementara di salah satu sudut kawasan yang baru dibuka untuk umum sejak setahun belakangan ini, tersedia pula jajanan sate kelinci. Rasanya, sama lezatnya dengan sate ayam. Ingin mencoba juga?(AIS/Tim Jalan-Jalan)

Sumber>>www.liputan6.com

Wisata Candi Sukuh In Karanganyar.



Candi Sukuh (Karanganyar) Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang terletak di Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni. Candi Sukuh dibangun pada abad 15, +/- 1.437 Masehi. Yang khas dari candi Sukuh yaitu arsitekturnya sangat mirip dengan candi Maya di Guatemala Amerika Tengah. Di teras pertama terdapat relief kemaluan laki-laki dan perempuan yang saling berhadapan (Lingga dan Yoni) yang merupakan simbol cinta kasih sebagai simbol asal usul kehidupan, serta sejumlah relief-relief yang terkesan unik dan erotis yang sebenarnya merupakan perlambangluhur tentang ajaran kehidupan yang hakiki.

Wisata Candi Cetho In Karanganyar




bjek wisata yang bersifat hiburan, adalah hal yang biasa. Tapi kalau ada unsur religi dan budaya adalah objek wisata yang perlu kita kunjungi. Objek wisata tersebut adalah Candi Cetho, di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, dengan ketinggian 1500 meter dpl. Objek wisata tersebut sangat menarik dan pantas untuk dikunjungi.
Suasana dingin, sejuk, sepi, jauh dari hiruk pikuknya kota adalah suasana yang bisa didapatkan jika kita mengunjungi tempat tersebut. Objek wisata ini cocok, jika kita ingin melepaskan diri dari kepenatan aktivitas sehari-hari yang penuh dengan kesan ramai. Candi Cetho terhampar tepat di perbatasan hutan heterogen lereng Lawu yang asri dan berhawa nyaman.
Dari sebidang ketinggian, tempat candi peninggalan umat Hindu terakhir di Jawa itu, kita bisa menyaksikan dataran rendah yang terhampar di arah utara (Kota Sragen), sarat (Kota Solo) dan selatan (Sukoharjo danWonogiri) sekaligus. Keleluasaan pandang tanpa hambatan itu membuat Cetho disukai sebagai tempat orang mendirikan menara antena pancar ulang radio.
Di Cetho, selain bisa menikmati wisata religi dan budaya dari candi Cetho, kita bisa menikmati hamparan kebun teh yang terdapat di kecamatan Ngargoyoso dan Jenawi di pinggir jalan utama Karanganyar-Sragen via Cetho. Kebun teh ini sangat mentakjubkan yang dilatar belakangi oleh Gunung Lawu. Aktivitas pemetik teh pada pagi hari membawa para pengunjung pada suasana alami pegunungan. Bahkan, kita bisa mengikuti aktivitas pemetik teh di pagi hari.
Di area parkir yang terletak di pinggir jalan juga disediakan rest area sehingga para pengunjung dapat menikmati keindahan panorama kebun teh. Pengunjung juga dapat melihat proses pembuatan teh di pabrik teh PT Rumpun Kemuning.
Kepala Dinas Pariwisata Karanganyar, IA Joko Suyanto menjelaskan, Candi Cetho, Candi Sukuh, Astana Giribangun, Astana Girilayu, Astana Mangadeg, dan Tugu Tridharma, Taman Saraswati, Pura Pamacekan, Pertapaan Pringgodhani adalah paket wisata yang ditawarkan oleh Disparta sebagai wisata religi, budaya dan edukasi. Paket wisata ini sangat menarik untuk dicoba, karena selain kita bisa menikmati wisata hiburannya, seperti hiburan pemandangan hamparan kebun teh juga bisa menikmati wisata religi dan budaya bahkan edukasi.

Peninggalan Majapahit
Menurut Joko Suyanto, Candi Cetho dibangun pada abad XV oleh Raden Brawijaya V, sebelum beliau moksa di puncak Lawu. Candi berundak yang menghadap ke barat, menjadi simbol berakhirnya Kerajaan Majapahit. Candi ini terdiri dari 13 teras berundak yang tersusun dari barat ke timur. Gapura candi yang tinggi menjulang, merupakan ciri khas candi ini. Di beberapa teras terdapat pendapa dan bangunan kayu tempat arca Brawijaya V dan pengawalnya serta sebuah arca lingga.
Di sebelah timur kompleks candi terdapat sebuah meru yang di dalamnya menyimpan sebuah lingga sebagai simbol jenis kelamin laki-laki dan yoni sebagai simbol kelamin perempuan. Perlu untuk diketahui, di atas candi Cetho ada candi lagi yaitu candi Kethek.
Di timur candi, terdapat Puri Taman Saraswati. Taman ini merupakan tempat sembahyang bagi umat Hindu kepada Sang Hyang Aji Saraswati. Patung Dewi Saraswati adalah pemberian dari bupati Gianyar A.A Gde Agung Barata untuk bupati Karanganyar Rina Iriani sebagai bentuk kerjasama dan ikatan persaudaraan antara masyarakat Hindu Bali dan Hindu jawa. Di kawasan taman, setiap peringatan Hari Saraswati yang diadakan setiap 210 hari selalu digelar kesenian tradisional Jawa dan Bali.
Petugas loket dari objek wisata candi Cetho, Sunardi kepada Joglosemar menjelaskan, retribusi karcis sebesar Rp 3.000 untuk wisatawan nusantara sedangkan untuk wisatawan mancanegara sebesar Rp 10.000.

Sumber>>> www.karanganyar.com

Wisata Tawangmangu In Karanganyar.







Tawangmangu is located 40 km east of Solo, this recreational resort offers fresh weather; scenic views, swimming pools, bungalow style hotels and restaurants. Tawangmangu, a mountain resorts at an elevation of almost 1 km above sea level, which promises a cool escape from the city's heat. It lies on the slopes of Mt., Lawu, at an elevation of 1300 m above sea level. A cool splendid hill resort also on the slope of mount Lawu, at about 1400 M height above sea level. The road from Solo via Karangpandan is a fine trip thru magnificent green terraced hills. Tawangmangu has all kind of facilities, hotel, camping ground, forest tourism, etc. The climate is fresh and one can enjoy the beautiful scenery. Other features include nearby temples, a national park and 40m in high waterfall of Grojogan Sewu.

It is a 100 M high waterfall; the pool at the bottom has very chilly water. In front of the gate to Grojogan Sewu, horses for rent are available to ride around Tawangmangu.


Wisata Balapan Kuda Nyi Ageng Serang In Sragen.




Sragen-Arena pacuan kuda Nyi Ageng Serang terletak di Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang. Lintasan sepanjang 600 meter itu hanya berjarak 1,5 kilometer dari tepian waduk Kedung Ombo.


Akses menuju lintasan pacuan kuda Nyi Ageng Serang relatif mudah. Arena pacuan kuda itu berjarak 30 kilometer dari pusat kota Kabupaten Sragen dan dapat ditempuh selama 40 menit dengan mengendarai mobil. Dari Semarang, pungunjung dapat melewati jalur alternatif Salatiga-Karanggede-Gemolong-Sumberlawang. Dari Surakarta (Solo), pengunjung dapat mengambil rute Solo-Purwodadi dan berbelok ke barat ketika memasuki daerah Sumberlawang. Lokasi pacuan Kuda berada lima kilometer dari jalan raya Solo-Purwodadi


Keberadaan arena pacuan kuda di Ngasinan membawa perubahan pada wajah desa. Jalan hotmix sepanjang lima kilometer kini membelah dari pusat Kecamatan Sumberlawang hingga ke pedesaan. Memudahkan arus transportasi dan perdagangan. Penerangan jalan dan fasilitas air bersih kini tersedia dalam jumlah dan kualitas yang memadai.


Kegiatan masyarakatpun lebih beragam. Penduduk setempat membuka penginapan atau homestay di rumahnya bagi pengunjung yang ingin bermalam. Warung-warung makan dengan menu khas pedesaan juga siap memanjakan lidah siapapun yang datang.


Warung makan di desa ini tergolong unik. Warung tersebut menyatu dengan rumah penduduk dan posisinya berada dekat pintu depan. Menu yang tersaji benar-benar masakan rumah tangga dengan sentuhan bumbu khas desa. Juru masaknya tak lain adalah para wanita pedesaan yang masih mempertahankan resep tradisional warisan orang tua mereka. Dengan demikian, suasana pedesaan kental terasa.

Saat ini tengah disusun rute untuk wisata menunggang kuda (horse riding). Di pacuan telah tersedia empat kuda hasil persilangan antara kuda Eropa dan lokal. Tunggangan ini siap digunakan berkuda mengelilingi perbukitan dan lembah di sekitar arena pacuan dan waduk Kedung Ombo. Pengunjung yang belum pernah naik kuda tidak perlu khawatir. Pengelola pacuan kuda menyediakan pemandu dan sekaligus melatih pengunjung menunggang kuda.

Fasilitas komplek pacuan kuda juga lengkap. Selain lintasan pacuan area pit stop dan tribun yang representatif untuk pertandingan internasional, juga terdapat istal atau stable yang terjamin kebersihannya. Stable itu ditangani oleh perawat kuda professional. Sehingga para pemilik kuda dapat menitipkan kuda-kuda tersebut untuk mendapat penanganan yang berkualitas.


Sumbe>> www.sragenkab.go.id










Budaya Jawa Tengah Via Pekasa



SRAGEN - Bertempat di Rumah KRT Muharjo Hadinagara, Beloran Sragen, Paguyuban Kawula Keraton Surakarta ( Pakasa ), Minggu (25/11) mengadakan pertemuan anggota dan warga Pakasa. Pakasa Cabang Sragen didirikan bulan Februari 2007 lalu. Sampai saat ini telah memiliki anggota kurang lebih 225 orang. Menurut KP Edy Wirabhumi sewaktu mengukuhkan Pakasa 9 bulan lalu mengatakan bahwa para pengurus, anggota dan warga Pakasa ini dapat menjadi ujung tombak pelestarian dan pengembangan budaya jawa yang bersumber dari Keraton Surakarta Hadiningrat di Sragen.

Keraton Surakarta sebagai kesatuan ikatan trah Mataram mempunyai kewajiban untuk melestarikan nilai-nilai tradisi budaya Jawa. Budaya juga sebagai salah satu saka guru sebuah negara. Jika seseorang memiliki kecintaan dan dedikasi tinggi pada budaya, berarti dia juga mencintai negaranya.

Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota dan warga serta calon warga Pakasa Cabang Sragen. Menurut Wahyu Widayat, SH, Msi, sewaktu memberikan sambutan dalam pertemuan minggu itu, mengajak para anggota Pakasa untuk selalu menguri-uri budaya jawa yang adi luhung. Para anggota dan warga Pakasa juga di harapkan dapat memberikan sumbang saran dalam upaya melestarikan budaya jawa yang bersumber di keraton. Budaya Jawa merupakan warisan leluhur yang wajib dilestarikan.

Senada dengan Wahyu Widayat, Kepala Dinas Pendidikan Gatot Supadi mengatakan, atas nama pemerintah dia menyambut baik upaya Pakasa dalam nguri-uri budaya jawa. Dalam budaya jawa, banyak pelajaran yang dapat dipetik untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Gatot Supadi, dalam hidup bermasyarakat diperlukan tata krama, unggah-ungguh, dengan mendalami budaya jawa yang adi luhung, yang di implementasikan dalam setiap cipta rasa dan karsa, maka seseorang akan mudah diterima dalam lingkungan masyarakat.

Gatot Supadi mengharapkan Pakasa dapat memberikan andil dalam upaya memajukan pendidikan budaya di Kabupatren Sragen. Anggota Pakasa yang sebagian besar sudah berusia menengah ke atas dan sudah cukup matang dalam mendalami budaya jawa, di harapkan dapat mewariskan pengetahuan dan memberikan didikan kepada generasi muda sebagai penerus.

Gatot Supadi menambahkan, anggota Pakasa juga diharapkan untuk selalu meningkatkan keahlian dan kemampuannya, seperti belajar Pranoto coro, dan masih banyak pelajaran budaya jawa yang dapat kita pelajari.

Dalam acara tersebut diadakan potong tumpeng oleh eyang Slamet Basuki. Potong tumpeng diserahkan ke Wahyu Hidayat dan Gatot Supadi. Selanjutnya di serahkan ke semua peserta Pakasa yang hadir. (hart)

Sumber: www.sragen.go.id