Jumat, 21 Maret 2008

Wisata Tawangmangu In Karanganyar.







Tawangmangu is located 40 km east of Solo, this recreational resort offers fresh weather; scenic views, swimming pools, bungalow style hotels and restaurants. Tawangmangu, a mountain resorts at an elevation of almost 1 km above sea level, which promises a cool escape from the city's heat. It lies on the slopes of Mt., Lawu, at an elevation of 1300 m above sea level. A cool splendid hill resort also on the slope of mount Lawu, at about 1400 M height above sea level. The road from Solo via Karangpandan is a fine trip thru magnificent green terraced hills. Tawangmangu has all kind of facilities, hotel, camping ground, forest tourism, etc. The climate is fresh and one can enjoy the beautiful scenery. Other features include nearby temples, a national park and 40m in high waterfall of Grojogan Sewu.

It is a 100 M high waterfall; the pool at the bottom has very chilly water. In front of the gate to Grojogan Sewu, horses for rent are available to ride around Tawangmangu.


Wisata Balapan Kuda Nyi Ageng Serang In Sragen.




Sragen-Arena pacuan kuda Nyi Ageng Serang terletak di Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang. Lintasan sepanjang 600 meter itu hanya berjarak 1,5 kilometer dari tepian waduk Kedung Ombo.


Akses menuju lintasan pacuan kuda Nyi Ageng Serang relatif mudah. Arena pacuan kuda itu berjarak 30 kilometer dari pusat kota Kabupaten Sragen dan dapat ditempuh selama 40 menit dengan mengendarai mobil. Dari Semarang, pungunjung dapat melewati jalur alternatif Salatiga-Karanggede-Gemolong-Sumberlawang. Dari Surakarta (Solo), pengunjung dapat mengambil rute Solo-Purwodadi dan berbelok ke barat ketika memasuki daerah Sumberlawang. Lokasi pacuan Kuda berada lima kilometer dari jalan raya Solo-Purwodadi


Keberadaan arena pacuan kuda di Ngasinan membawa perubahan pada wajah desa. Jalan hotmix sepanjang lima kilometer kini membelah dari pusat Kecamatan Sumberlawang hingga ke pedesaan. Memudahkan arus transportasi dan perdagangan. Penerangan jalan dan fasilitas air bersih kini tersedia dalam jumlah dan kualitas yang memadai.


Kegiatan masyarakatpun lebih beragam. Penduduk setempat membuka penginapan atau homestay di rumahnya bagi pengunjung yang ingin bermalam. Warung-warung makan dengan menu khas pedesaan juga siap memanjakan lidah siapapun yang datang.


Warung makan di desa ini tergolong unik. Warung tersebut menyatu dengan rumah penduduk dan posisinya berada dekat pintu depan. Menu yang tersaji benar-benar masakan rumah tangga dengan sentuhan bumbu khas desa. Juru masaknya tak lain adalah para wanita pedesaan yang masih mempertahankan resep tradisional warisan orang tua mereka. Dengan demikian, suasana pedesaan kental terasa.

Saat ini tengah disusun rute untuk wisata menunggang kuda (horse riding). Di pacuan telah tersedia empat kuda hasil persilangan antara kuda Eropa dan lokal. Tunggangan ini siap digunakan berkuda mengelilingi perbukitan dan lembah di sekitar arena pacuan dan waduk Kedung Ombo. Pengunjung yang belum pernah naik kuda tidak perlu khawatir. Pengelola pacuan kuda menyediakan pemandu dan sekaligus melatih pengunjung menunggang kuda.

Fasilitas komplek pacuan kuda juga lengkap. Selain lintasan pacuan area pit stop dan tribun yang representatif untuk pertandingan internasional, juga terdapat istal atau stable yang terjamin kebersihannya. Stable itu ditangani oleh perawat kuda professional. Sehingga para pemilik kuda dapat menitipkan kuda-kuda tersebut untuk mendapat penanganan yang berkualitas.


Sumbe>> www.sragenkab.go.id










Budaya Jawa Tengah Via Pekasa



SRAGEN - Bertempat di Rumah KRT Muharjo Hadinagara, Beloran Sragen, Paguyuban Kawula Keraton Surakarta ( Pakasa ), Minggu (25/11) mengadakan pertemuan anggota dan warga Pakasa. Pakasa Cabang Sragen didirikan bulan Februari 2007 lalu. Sampai saat ini telah memiliki anggota kurang lebih 225 orang. Menurut KP Edy Wirabhumi sewaktu mengukuhkan Pakasa 9 bulan lalu mengatakan bahwa para pengurus, anggota dan warga Pakasa ini dapat menjadi ujung tombak pelestarian dan pengembangan budaya jawa yang bersumber dari Keraton Surakarta Hadiningrat di Sragen.

Keraton Surakarta sebagai kesatuan ikatan trah Mataram mempunyai kewajiban untuk melestarikan nilai-nilai tradisi budaya Jawa. Budaya juga sebagai salah satu saka guru sebuah negara. Jika seseorang memiliki kecintaan dan dedikasi tinggi pada budaya, berarti dia juga mencintai negaranya.

Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota dan warga serta calon warga Pakasa Cabang Sragen. Menurut Wahyu Widayat, SH, Msi, sewaktu memberikan sambutan dalam pertemuan minggu itu, mengajak para anggota Pakasa untuk selalu menguri-uri budaya jawa yang adi luhung. Para anggota dan warga Pakasa juga di harapkan dapat memberikan sumbang saran dalam upaya melestarikan budaya jawa yang bersumber di keraton. Budaya Jawa merupakan warisan leluhur yang wajib dilestarikan.

Senada dengan Wahyu Widayat, Kepala Dinas Pendidikan Gatot Supadi mengatakan, atas nama pemerintah dia menyambut baik upaya Pakasa dalam nguri-uri budaya jawa. Dalam budaya jawa, banyak pelajaran yang dapat dipetik untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Gatot Supadi, dalam hidup bermasyarakat diperlukan tata krama, unggah-ungguh, dengan mendalami budaya jawa yang adi luhung, yang di implementasikan dalam setiap cipta rasa dan karsa, maka seseorang akan mudah diterima dalam lingkungan masyarakat.

Gatot Supadi mengharapkan Pakasa dapat memberikan andil dalam upaya memajukan pendidikan budaya di Kabupatren Sragen. Anggota Pakasa yang sebagian besar sudah berusia menengah ke atas dan sudah cukup matang dalam mendalami budaya jawa, di harapkan dapat mewariskan pengetahuan dan memberikan didikan kepada generasi muda sebagai penerus.

Gatot Supadi menambahkan, anggota Pakasa juga diharapkan untuk selalu meningkatkan keahlian dan kemampuannya, seperti belajar Pranoto coro, dan masih banyak pelajaran budaya jawa yang dapat kita pelajari.

Dalam acara tersebut diadakan potong tumpeng oleh eyang Slamet Basuki. Potong tumpeng diserahkan ke Wahyu Hidayat dan Gatot Supadi. Selanjutnya di serahkan ke semua peserta Pakasa yang hadir. (hart)

Sumber: www.sragen.go.id